Part 2
Memutuskan untuk masuk program tahfidz setelah selesai kuliah
Saat itu aku hampir mukim atau pulang ke rumah untuk seterusnya, saat itu usiaku 23 tahun, bisa dibilang sudah tidak muda lagi bukan. Saat seusiaku sudah sibuk membina rumah tangga dan aku memilih jalan lain. Beribu kali aku pikirkan sebelum benar-benar terjun ke dunia Al-Quran. Dengan banyak pertimbangan dan dukungan teman2 yang saat itu begitu peduli denganku menjadi modal awal untuk terus melangkah. Sebenarnya pula aku sudah diminta untuk pulang ke rumah dan sempat berada di rumah lama juga.
Menyandang gelar sarjana menjadi embel2 tersendiri, bersyukur karena sudah selesainya kuliah namun juga menjadi tuntutan untuk bisa memanfaatkan ilmu yang didapat untuk mencari penghasilan seperti yang diharapkan orang tua. Pikirku saat itu sudah tertanam bahwa ilmu diponpes pasti akan lebih bermanfaat dari pada selembar ijazah, dan hal itu pula yang selalu di tanamkan Abah saat diponpes dulu.
Berdebat adalah hal lumrah yang terjadi dikeluarga, perbedaan pendapat dan keputusan seringkali memicu munculnya masalah. Sampai dititik dimana aku pasrah saking lamanya tidak diterima kerja sana sini, akhirnya membulatkan tekad kembali ke pondok dengan alasan belum siap pulang dan mau mencoba sambil cari2 kerja. Ku beranikan untuk meminta izin kepada orangtya yang akhirnya diperbolehkan dengan syarat memang harus membiayai sepenuhnya sendiri. Dan saat itu pula ku yakinkan diri ini untuk masuk program tahfidz, cita2 yang pernah saat itu terlintas dipikiranku.
Ku ketik pesan ke mba wasi yang waktu itu menjadi penanggungjawab program itu dan ku sampaikan niatku ini. Pikirku satu kala itu hanya ingin memberikan mahkota dan jubah kebesaran untuk bapak dan mama kelak di akhirat karena jujur sampai sekarang pun aku belum berkontribusi besar untuk membantu perekonomian keluarga apalagi membahagiakan mereka. Di selang satu bulan aku masuk program tahfidz dan setoran ke Gus Syaviq yang sebelumnya setoran terlebih dahulu ke mbak Eli dengan step by step yang pernah ku tulis di note hp. Kala itu note itu penuh dengan banyak sekali kalimat2 yang sering ku tulis saat aku sedang tidak bisa mengungkapkan apa yang sedang dirasa ke orang lain.
Bukan apa2 ini hanya sebagai catatan pengingat bahwa aku pernah seeffort ini
Setoran ke mba el
1. 30 Desember 2021 ->¼ juz 30 dengan catatan ghunah diperjelas lagi cth : lamma)
2. 31 Desember 2021 ¼ juz 30
3. 03 Januari 2022 ¼ juz 30
4. 04 Januari 2022 ¼ juz 30
5. 06 Januari 2022, Al Waqi'ah
1. 30 Desember 2021 ->¼ juz 30 dengan catatan ghunah diperjelas lagi cth : lamma)
2. 31 Desember 2021 ¼ juz 30
3. 03 Januari 2022 ¼ juz 30
4. 04 Januari 2022 ¼ juz 30
5. 06 Januari 2022, Al Waqi'ah
Diawal februari kalau tidak salah aku memulai setoran langsung ke gus Syaviq dengan diawali membaca bismillah kemudian syahadat 3x dan al fatihah 5x, berdegup kencang hatiku rek saat itu entah seperti membuat perjanjian dengan sesuatu yang besar dan tidak bisa diungkapkan dengan kata2.
Berjalanlah selama satu bulan dengan banyak kesulitan yang dihadapi karena memang the real aku perdana aku menghafalkan Al Quran. Bagaimana sulitnya awal2 menghafal huruf kata demi kata dan harus mengingat kata dan ayat selanjutnya apa tapi ku nikmati proses itu hingga tak terasa sebulan berlalu. Qodarulloh pintu rezeki terbuka, aku diterima bekerja di Harapan Bunda sebagai guru pendamping, itu pun banyak drama saat seleksi sampai aku yang menangis saat diinterview oleh ust Ami Ketua Yayasan lembaga pendidikan tersebut. Hingga sempat dilema saat ditawari untuk menjadi musyrifah di asrama SMPIT dan akhirnya ku tetap memilih berada dipondok dan ngaboti setoran.
Hingga tiba perpindahan ke pondok cabang Al Amin baru yang dikhusukan untuk pondok Hafalan dibawah naungan Gus Syaviq dan Ning Mia yang akhirnya beliau2 menetap untuk tinggal di purwokerto. Saat itu sempat kebingungan bagaimana cara untuk memanage waktu agar semuanya bisa berjalan karena jujur keinginganku untuk menghafal bukan karena perintah orang tua dan bahkan orang tua entah memahami atau tidak anaknya memilih keputusan itu, karena memang latar belakang keluarga bukan dari keluarga islami seperti kebanyakan teman2 pondokku. Banyak kisah suka duka, tawa tangis mengiringi perjalanku. Lelahnya tenaga yang terkuras dengan pikiran yang harus tetap oke untuk bisa membuat setoran baru setiap harinya, bener2 harus pinter mengelola emosi. Selalu meyakinkan diri bahwa apa yang telah aku pilih dan mulai mau tidak mau harus diselesaikan dengan baik. Hingga kini terpikir aku memang bukan berasal dari keluarga penghafal tapi aku menginginkan bahwa anak2 yang lahir dari rahimku adalah anak2 penghafal Al Quran, Amiin. Kalimat itu aku dapat saat membaca postingan2 di Ig yang kebetulan lewat dan terngiang ngiang dikepala.
Dan teman2 harus tahu menjadi salah seorang guru pendamping anak berkebutuhan khusus tentu bukan hal yang mudah apalagi seusia TK, lika liku tahun pertama membuatku bener2 membuat menangis tapi disisi lain banyak hal yang bisa dipelajari... next time akan aku ceritakan pengalaman menjadi shadow teacher.
Komentar
Posting Komentar