Hari ini aku mengikuti IHT harapan bunda untuk ke beberapa kalinya. Event itu membahas tentan komunikasi di sesi ke dua bersama Dr. Wisnu dari dosen unsoed. Sesampainya pulang sejenak merebahkan badan diatas kasur depan lemari yang kasur itu milik mba eli yang entah siapa yang memakainya. Sampai memilih untuk mencuci baju dikamar mandi depan, sampai terpikirkan bagaimana ya aku bisa membangun kepercayaan diri biar bisa pede untuk melakukan banyak hal yang melibatkan orang lain. Lagi lagi ini bukan tentang tidak bersyukur tentang semua yang telah terlewati hingga kini namun untuk sejauh ini aku rasa aku belum bisa percaya sepenuhnya terhadap diri sendiri. Hingga teringat kata kata dari kajian ustadz Hanan Attaki bahwa kita harus memberikan afirmasi positif pada diri kita. Jalan setiap orang berbeda, jalanku mungkin harus lebih berjuang dari kebanyakan orang, diseusiaku sekarang teman2 ku sudah mulai meninggalkan pondok termasuk angkatanku 2017 tersisa aku dan Fiki sekarang dan itupun tak lama lagi fiki akan mukim melanjutkan S2 di UGM. Memang dibilang tidak dekat tapi aku merasa memiliki sebagai teman seangkatan. Aku tidak bisa memaksa seseorang untuk tinggal dan menetap tapi aku jujur pada diriku sendiri aku cukup sedih karena satu persatu memilih jalan menuju masa depan yang berbeda2. Sekali lagi aku meyakinkan diri sendiri bahwa kehidupan yang ku jalani saat ini semuanya atas izin Allah SWT. Aku memilih jalan berbeda dengan orang lain pun ini pasti takdir yang Allah tetapkan. Ingin tahu cerita hidupku hingga di titik ini? Pasti akan banyak kata yang muncul dan perlu banyak waktu untuk menuliskan semua kisahku.
Ku tulisakan kisah ini agar aku ingat dan sebagai pengingat diri dikala aku sedang lemah dan berada dititik terendah.
Part 1 Kisah perjalanku awal masuk kuliah - bertahan dipondok pesantren
Setelah SMA ketika tidak diterima SNMPTN maupun SBMPTN aku memilih bekerja diparbik rambut dengan dukunga orang tua yang memang notaben keluargaku memang dicukup-cukupkan untuk kebutuhan sehari-sehari. Aku anak kedua dari dua bersaudara yang mana kakaku adalah penyandang tuna rungu disebabkan bukan dari lahir tapi kemungkinan dari sakit yang dialami saat kecil. Dari situ aku selalu menjadi harapan yang secara langsung diungkapkan bapak kepadaku sebab dengan siapa lagi beliau akan bergantung kalau bukan dengan diriku satu satunya harapan. Saat itu aku belum terlalu memahami apa yang bapak maksud.
Berlalu dari topik ini alhamdulillah dulu saat bekerja dipabrik aku dipertemukan dengan trainer yang baik, bu parmi namanya. Beliau unik orangnya, seperti layaknya paranormal beliau terkadang bisa membaca apa yang sedang aku pikirkan. Sampai dititik aku jenuh dengan pekerjaan meskipun penghasilannya lumayan, bisa membeli sesuatu yang aku inginkan dan sedikit membantu orang tua. Saat itu aku digaji 900k saat magang 3 bulan, setelah itu naik bertahap hingga 1,5 jt kalau tidak salah. Bersamaan itu pula aku dibelikan motor second dan hasil gaji sedikit disisihkan untuk menambah modal membeli motor itu. Aku memang orangnya nerimaan ya dengan senang hati ku terima motor itu dengan baik, karena lebih baik saat aku duku sekolah SMA yang tadinya naik motor supra Z dengan kondisi setngah telanjang karena tebeng depab sudah rusak dan sempat ganti juga di jelas2 sama lulus menggunakan motor Fiz R yang bunyinya bikin bising telinga dan polusi udara, betapa kerennya memikirkan saat itu saat aku tidak pernah memikirkan malu untuk membawanya kesekolah ditengah2 maraknya teman2ku yang bisa dandan rapi cantik naik motor matic pula. Lucu saat memikirkannya. Eh lanjut ke saat kerja, setelah 11 bulan bertahan dengan rutinitas berangkat pagi pulang petang melawan hewan2 kecil saat lewat tengah sawah yang biasanya disebut samber mata akhirnya terbesit apa aku coba untuk lanjut kuliah lagi ya, hingga akhirnya menemukan titik terang dengan izin dari orang tua yang dibujuk bude untuk lanjut kuliah. Akhirnya diperbolehkan dengan syarat biaya cari sendiri karena bapak dan mama tidak bisa memberikan biaya untuk kuliah. Dicobalah jalur mandiri IAIN Purwokerto yang mana anak adiknya bude juga kuliah disana, dan aku mengikuti jejaknya dengan memilih prodi yang berbeda, saat itu aku posisi masih bekerja dan aku rasan2 dengan ibu trainerku itu dan beliau pun mengizinkan aku untuk ikut ujian mandiri, sampai saatnya aku berhasil lolos diterima kuliah dan aku memberi kabar gembira. Saat itu aku mendapat nasihat yang berharga " sisin masuk kesini dengan baik2 jadi kalau mau keluarpun usahakn dengan baik juga, janga seperti teman2mu yang sebelumnya. Dimanapun kamu bekerja usahakan lakukan seperti itu karena kita tidak tahu kedepannya akan seperti apa barang kali kamu keluar dari sini dengan cara yang baik dan suatu saat kamu ingin kembali lagi kesini kamu akan diterima dengan baik disini. Lanjut saat daftar ulang aku ditemani bapak ke purwokerto yang memang belum familiar jalan kesana, aku disarankan untuk mengajukan beasiswa bidikmisi karena kebetulan saat itu saudara bude ada yang jadi warek 3 di kampus, dan kebetulan aku memang secara finansial kurang mampu. Banyak drama di episode itu sampai aku bolak balik 2 kali karena ada berkas yang kurang, dan betapa sabarnya bapak menemani aku yang saat itu aku belum berani sendiri ke purwokerto.
Dan kebetulan aku dipertemukan dengan temannya anak saudara bude yang mondok di PPQ Al Amin dan kebetulan ndilalah kepanggih dengan pengasuh pondoknya. Saat itulah aku diarahkan untuk mondok disana, tanpa pikir panjang setelah menyelasaikan administrasi dan menunggu pengumuman penerimaan bidikmisi kami bertanya kepada pak satpam tentang alam pondok Al Amin tadi dan betapa baiknya pak satpam itu mengantar kami sampai depan gang masuk pondok dan ku liat ada plang bertuliskan pelayanan haji dan umroh, memasuki gerbang hitam nan tinggi yang terbuat dari besi kami memberanikan diri masuk, dan pemandangan indah karena orang-orang disana sedang sibuk menggali tanah yang terlihat itu adalag bagian saluran pipa kamar mandi. Wangi semerbak kotoran manusia menyeruak kehidung setiap orang yang melewatinya. Dan kami akhirnya duduk dan ada mbak2 santri senior yang kuliah mungkin itu adalah panitia panitia penerimaan santri baru yang saat itu aku belum paham apa nama panitia tersebut. Aku saat awam bener tidak tahu menahu seperti apa itu pondok, bagaimana keadaanya. Sama sekali tidak ada gambaran sebelumnya hingga akhirnya memutuskan untuk menetap ditempat itu tanpa pikir panjang dan tanpa survei2 pondok yang lain karena memang keterbatasan informasi kami. Jadilah aku boyongan membawa barang2 yang sekiranya dibutuhkan di pondok dengan bantuan mama untuk packing dan diantar bapak ke pondok. Dan itu hanya berselang 2 hari aku setelah aku berhenti dari pabrik rambut bernama PT Sunchang Indonesia di daerah mewek dibawah naungan manajer Cho yang kalau marah seisi gedung akan mendengar suara teriakannya. Hehe
Komentar
Posting Komentar